Penyimpanan Darah Tali Pusat: Prospek Kebutuhan Transplantasi vs Trend Mimpi Bioteknologi (I)

10 12 2008

 

Sudah menstruktur-darahjadi hal yang lazim jika tali pusat (ari-ari) bayi dibuang atau dikubur setelah melahirkan. Namun seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang transplantasi dan sel induk (stem cell), para orang tua di zaman ini banyak yang memilih untuk menyimpan darah tali pusat (DTP) anaknya disaat persalinan. DTP dipercaya mengandung hematopoietic stem cells (HSCs) dan pluripotent mesenchymal cell yang mungkin dapat bermanfaat bagi kesehatan anak mereka di masa depan.

Benarkah penyimpanan DTP secara personal merupakan pilihan “Asuransi Kesehatan” anak yang efektif, tepat guna, rasional dan bijak? Haruskah semua orang tua menyimpan DTP anak-anak mereka di perusahaan penyimpanan DTP? Apa sebenarnya yang dijanjikan oleh perusahaan penyimpan DTP milik pribadi? Bagaimana data-data riset teknologi canggih stem sel dan transplantasi berbicara? Dan apa kata dunia?

 

Setelah kesuksesan transplantasi umbilical cord blood atau darah tali pusat (DTP) pertama dipublikasikan oleh New England Journal of Medicine tahun 1989 [1], riset mengenai DTP, tempat penyimpanan, dan transplantasi kian menjamur di dunia. Transplantasi DTP terbukti sukses mengobati beberapa kasus penyakit seperti  leukemia (kanker darah) akut, non-Hodgkin`s lymphoma, myelodysplasia, Anemia Fanconi, Anemia Aplastic(AA), hemoglobinopathy, penyakit kelainan penyimpanan metabolic, dan penyakit Auto-immune [2]. Ekpektasi para orang tua saat ini mengarah pada pilihan untuk menyimpan DTP anak mereka guna kemungkinan kepentingan kesehatan anak mereka di masa depan.

 

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan swasta menggunakan kesempatan ini guna kepentingan bisnis kepada masyarakat luas dengan iming-iming DTP sebagai “Jaminan Asuransi Kesehatan”. Klaimnya ialah pada masa yang akan datang, sel induk DTP dapat dipergunakan untuk memperbaiki organ jantung, pankreas (guna penyakit diabetes) dan membantu pengobatan penyakit systemic lupus eritmatosus (SLE), multiple sclerosis, muscular dystrophy, stroke, alzheimer dan parkinson.

 

Menjamurnya bisnis ini di dunia, membuat organisasi dan asosiasi kesehatan di berbagai negara khawatir sehingga membuat pernyataan serta penyuluhan kepada masyarakat terutama para orang tua akan pemahaman urgensi dan prioritas sebelum menentukan “Asuransi Kesehatan” jenis ini terhadap anak-anak mereka.

 

Sel Induk dan Transplantasi

 

Sel induk (stem cell) merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi untuk dapat berdiferensiasi menjadi jenis sel lain. Kemampuan tersebut memungkinkan sel induk menjadi sistem perbaikan tubuh dengan menyediakan sel-sel baru selama organisme bersangkutan hidup. Salah satu macam sel induk adalah hematopoietic stem cells (HSCs), yaitu sel induk pembentuk darah yang mampu membentuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (basofil, eusinofil, neutrofil, limfosit, monosit), keping darah (trombosit), serta limfoid (T-cells, B-cells, NK-cells). DTP manusia diketahui sumber yang potensial untuk HSCs yang mampu merekontruksi hematopoiesis setelah terapi myeloablative atau nonmyeloablative kemoterapi [3].

 

 

Transplantasi sel induk DTP dapat berupa:

Enbsp;Transplantasi DTP alogenik (menggunakan sel induk dari DTP donor yang cocok, baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan keluarga)

Enbsp;Transplantasi DTP autologus (menggunakan sel induk DTP pasien sendiri, yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi dosis tinggi), dan

Enbsp;Transplantasi DTP singenik (menggunakan sel induk DTP dari saudara kembar identik.)

 

Transplantasi DTP Alogenik

 

Transplantasi DTP alogenik dikembangkan sebagai strategi untuk mencegah toksisitas sumsum tulang akibat intensif kemoterapi. Kesesuaian sistem imun antara donor dan resipien merupakan prinsip dasar transplantasi DTP. Kunci dari reaksi imun ini ialah human leucocytes antigen (HLA) molekul kelas I dan II, yang diekspresi pada permukaan sel untuk dikenali oleh sel CD8+ dan CD4+ sel T dan mungkin menyebabkan Graft versus host disease (GvHD), komplikasi yang umum ditemukan setelah transplantasi sumsum tulang dimana terjadinya respon penolakan sistem imun di tubuh dan menimbulkan serangan imunologis sel darah putih pendonor ke sel resipien di kulit, gastrointestinal dan atau hati karena dianggap benda asing [4].

 

Setiap manusia memiliki enam kelompok HLA, akan tetapi tiga kelompok (yaitu A, B, dan DR) merupakan yang terpenting pada transplantasi sel induk. Setiap kelompok ini memiliki dua antigen, satu didapatkan dari ayah dan satu dari ibu. Sehingga terdapat jumlah enam antigen untuk menentukan kecocokan donor/resipien. Disebut cocok sempurna apabila kecocokan mencapai 6/6. Pada pasien hematologic malignansi, banyak studi mendemonstrasikan DTP dari 4-6/6 HLA-A, -B antigen, dan -DRB1 alel yang sesuai mengandung sejumlah HSC yang cukup untuk mencapai minimal kesuksesan tranplantasi pada pasien-pasien pediatric yang menjalani transplantasi DTP alogenik (walaupun pendonor bukan anggota keluarga/kerabat dekat) [2], [3].

 

Di tahun 1998, Rubinstein et al. memberitakan bahwa 562 resipien transplantasi alogenik DTP dari 98 pusat donor transplantasi dilakukan [8]. Senada dengan Gluckman et al. [9], hasil studi mereka mendemonstrasikan jumlah leukosit/kg pada kesuksesan DTP terkorelasi dengan waktu myeloid engraftment. Kinetika myeloid engraftment juga terkait dengan derajat ketidaksesuaian HLA. GvHD karena adanya perbedaan HLA pada derajat tertentu, ternyata merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Pasien dengan GvHD memiliki kemungkinan penyembuhan kanker (terutama leukemia) yang lebih besar. Sejumlah bukti memberitakan bahwa GvHD pada derajat tertentu menguntungkan bagi pasien karena dapat membunuh sel kanker itu sendiri. Data yang lebih terkini menjanjikan hasil yang lebih besar pada anak-anak dan dewasa, serta pasien dengan kelainan nonmalignant [2], [3], [5], [6]. Sistem imunologi yang unik dari DTP memperbolehkan transplantasi HSC walaupun dengan kesesuaian HLA yang tidak sepenuhnya. Setidaknya kesesuaian 5/6 terpenuhi [7], akan menimbulkan insiden GvHD yang rendah, tetapi GvL (graft versus leukemia) yang efisien. Hal ini menyebabkan transplantasi DTP alogenik merupakan pendekatan yang optimal [7].

 

Kriteria dibutuhkannya HLA yang sesuai lebih ringan walaupun DTP dari pendonor yang tidak ada hubungan keluarga/kerabat dekat. Sehingga akses untuk dilakukannya transplantasi dapat lebih meluas kepada jenis ras dan etnis mionoritas.

Pada anak-anak, transplantasi DTP alogenik telah terbukti sukses mengobati anak dengan kelainan metabolik, adrenoleukodystrophy dan penyakit infantile Krabbe’s [10], [11]. Penggunaan DTP yang lebih luas pada orang dewasa masih diperlukan peningkatan. Perkembangan penggunaan DTP transplantasi pada orang dewasa dapat terlaksana dengan adanya perkembangan pada metode yang terpercaya guna meminimalisasi kesalahan graft, meningkatkan kecepatan graft dan recoveri sistem imun tanpa meningkatkan GvHD

 

 

 

Sara Wardhani, mahasiswa program master di Graduate School of Pharmaceutical Sciences, Department of Pharmacology, Tohoku University, Japan. Email: A6YM1082 [at] cs.he.tohoku.ac.jp

http://www.beritaiptek.com


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: